Hari Jumat siang saya sekeluarga berangkat ke Cianjur menuju rumah teteh saya. Rencana awal berangkat jam 1 siang terpaksa diundur karena teteh ipar saya harus menyelesaikan dokumen di sekolah. Yah mau bagaimana lagi, dokumen itu harus selesai hari itu juga.
Setelah Berdongkol ria, kamipun berangkat diawali dengan mengucap basmallah. Perjalanan yang cukup jauh ini cukup banyak hambatan. Ya seperti biasa, saat memasuki ibukota pasti yang terlihat adalah kemacetan. Seolah sudah menjadi hal yang lumrah ya. Hehe...
Adzan maghrib mulai terdengar. Kamipun berencana istirahat sejenak dan melaksanakn shalat. Lumayan lelah, padahal perjalanan masih cukup panjang. Basuhan wudhu mampu memberikan rasa nyaman di tubuh letih ini. Setelah semua selesai, kami melanjutkan perjalanan.
Lagi-lagi hambatan muncul, turun hujan. Ya sebenarnya bukan hambatan, tapi anugerah dari Allah. Hujan turun saat akan memasuki wilayah puncak sehingga hawa semakin menggigit. Kondisi ini diperparah dengan adanya longsor sehingga timbul antrian panjang. Setelah berkutat dengan jalanan berkelok, akhirnya kami sampai saat jam menunjukkan pukul 23:00. Lelah rasanya, tak lama mata ini terpejam.
Keesokan harinya saya terbangun saat suasana rumah mulai ramai lancar (ini kayak laporan arus lalu lintas ya. Hehe...). Saya beranjak ke kamar mandi, tapi ada yang aneh. Airnya dingin tapi ga dingin banget. Setelah tanya sana sini ternyata saat musim hujan, cuacanya panas sehingga tidak terlalu dingin.
Yang saya suka adalah suasana disini yang masih asli. Hamparan sawah yang luas, gunung yang menjulang tinggi ke angkasa (posisi saya berada di kaki gunung), dan sayup-sayup suara hewan ternak. Keponakan saya sangat senang berada disini karena dapat melihat pemandangan yang begitu indah dan juga dapat bermain kejar-kejaran dengan bebek. Hehe....
Subhanallah
#MenulisSetiapHari