Menulislah

Kamis, 23 Juni 2016

Sendu Itu Kembali

Senja itu saya duduk sendiri. Menatap langit senja yang dihiasi coretan berwarna oranye. Indahnya ciptaan sang pencipta alam semesta. Disini saya sendiri, ditemani burung-burung yang menari dan bernyayi. Ah... menambah suasana yang dapat menenangkan jiwa.

Seketika awan berubah menjadi kelam. Semakin lama suasana disini semakin mencekam. Perlahan air mulai jatuh dan membahasi tubuh ini. Perlahan rintikan air membuat danau ini bergelombang. Rintikan air menampakkan kemampuannya. Ia semakin cepat dan banyak, membuat tubuh ini basah dibuatnya.

Namun tubuh ini enggan beranjak. Mata ini perlahan menatap danau di hadapan. Menatap gelombang air yang tak beraturan. Entah mengapa, gelombang air itu perlahan berubah menjadi sebuah tempat yang saya kenal. Sebuah tempat yang mengingatkan saya pada seseorang yang dulu pernah sangat dekat.

Ah.... Ternyata dia ada disana. Duduk di bawah sebuah pohon yang sering kami gunakan sebagai tempat berbagi cerita. Ia duduk membelakangi saya dan terlihat sedang menatap jauh ke hamparan sawah. Sudah lama sekali saya tak melihatnya. Dada ini bergemuruh, lidah kelu, dan kaki terasa tak bertulang.

Saya hanya mampu menatapnya dari kejauhan. Menatap bajunya yang putih bersih dipadukan dengan rok panjang putih bermotif snoopy. kain kerudung pink yang ia pakai melambai-lambai diterpa angin. Pemandangan yang sangat saya rindukan. Dada ini semakin berkecamuk. Tak terasa mata mulai berair dan membuat aliran sungai di pipi.

"Din, Apa kabar?"
"Sudah lama ya"
"Din, Mas rindu sama Dinda"
"Kamu masih cantik Din"
"Mas selalu mencintaimu Dinda"
"Semoga kita dipersatukan di Jannah-Nya"

Air hujan menyisakan rintik-rintik. Pandangan menuju dia perlahan kabur dan semakin tak terlihat. Kini air danau kembali tenang dan awan cerah kembali. Namun coretan oranye sudah berganti dengan cat hitam pekat berhias cahaya kelap kelip. Saya masih disini, menatap danau tenang nan sendu. Sebuah pertemuan singkat yang mampu melegakan dahaga kerinduan meski hanya sedikit.

Kembali saya mendongakkan kepala menatap cahaya bintang. Berharap aliran sungai ini dapat mengering.

"Mas janji sama Dinda, Mas ga akan nangis lagi"
"selamat tinggal"
"semoga Dinda tenang disana"

Rabu, 08 Juni 2016

Inikah Perpustakaan UI?

Mentari bersinar dengan indahnya. Saya mengencangkan tali sepatu ini, merapikan kemeja, memakai kacamata. Cool... Oke, cus berangkat diantar adik menuju terminal bayangan. Selanjutnya saya naik ke sebuah bus menuju Kp. Rambutan

Ya, Saya sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat antah berantah yang belum pernah saya datangi. Saya hendak menuju Perpustakaan UI yang berada di Depok. Berdasarkan pantauan luar angkasa (mulai gaje zzz), ada 2 metode yang dapat ditempuh, yaitu melalui jalur darat dan jalur darat (apaan sih).

Ini serius. Jalur darat pertama yaitu menggunakan kendaraan massal berupa kereta api. Sedangkan jalur darat kedua menggunakan angkutan antar kota antar provinsi bernama bus. Pada awalnya Saya akan berangkat dengan teman yang berdomisili di Pandeglang. Namun kenyataan pahit menyapa (baper hiks), ternyata doi tidak jadi ikut. Hufttt...

Sesampainya di terminal Kp. Rambutan setelah sekian masa menunggu dan menanti (lebay), Saya celingak celinguk mencari sesuatu.

"Mau kemana a?", tanya seorang mamang ojek
"Mau ke UI bang", jawab saya
"UI nya mana?", tanya sang ojek lagi
"Stasiun UI", jawab Saya
"Yaudah 70 ribu a", kata sang ojek

Whatttttt?????

"Saya naik angkot aja bang", jawab saya sambil elus-elus dompet
"Yaudah silakan. Tuh naik angkot merah", katanya

Saya hanya mengangguk dan berjalan menjauh. Kemudian Saya naik angkot nomer 19 yang selanjutnya mengantarkan diri ini menuju stasiun UI.

"Udah sampe stasiun UI a", kata mamang angkot nan baik hati
"Makasih Pa", jawab Saya sambil membayar ongkos

Kembali Saya celingak-celinguk

"Mana stasiunnya ya?", gumam saya

Saya cek hp. Ternyata sudah masuk waktu dzuhur. Eh, ada misscal dan sms.

"Udah dimana mas?", isi sms tersebut

Saya telpon deh orang tersebut.

"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam. Udah dimana mas?"
"Saya udah turun dari angkot. Kata mamangnya sih udah di stasiun UI, tapi ko ga keliatan stasiunnya ya?"
"Oh... nyebrang jalan mas. masuk lorong-lorong"
"oh gitu" (Ckckck... dasar katro)
"Mas sekarang dimana?"
"Di depan Gramedia"
"Yaudah saya jemput aja mas. Tunggu ya agak lama. 15 menitlah"
"Oke mas. Makasih ya"

Itulah potongan percakapan saya dengan mas Farid. Seorang teman yang bertemu di dumay, khususnya di sebuah grup bernama One Day One Post. Alhamdulillah Saya gak jadi anak ilang di negri orang (lebay wkwkwk)

Akhirnya setelah menunggu sekian lama Saya pun bertemu mas Farid, kemudian ia mengantarkan saya masuk ke kawasan UI. Saat memasuki UI, satu hal yang saya pikirkan.

"Ini kampus ko gede bener ya" (dasar ndeso wkwkwk)

Kami berhenti di Masjid UI untuk melaksanakan shalat dzuhur. Perjalanan dilanjutkan menuju Perpustakaan UI.

"Waw.... ini beneran perpus?", gumam Saya.

Saya dan mas Farid memasuki gedung Perpustakaan dan mengelilinginya. Alhamdulillah tidak nyasar. hehehe

Kami menaiki lift menuju lantai 2 dan melihat begitu banyak buku bertebaran disana-sini. Luarrrr biasa. Selanjutnya menuju lantai 3 dan melihat tumpukan skripsi, tesis dan disertasi. Kalau kata Romi Rafael sih "SEMPURNA".

Setelah berbingung ria mencari letak skripsi yang ingin dibaca, akhirnya kami menuju meja baca. Tak lama berdiam diri disana karena jam 3 sore perpustakaan tutup. Kami turun menuju masjid kampus dan shalat ashar.

Hari sudah sore, Saya memutuskan untuk pulang. Mas Farid mengantarkan Saya menuju Kp. Rambutan.

Itulah perjalanan Saya kemarin saat mengunjungi Perpustakaan UI. Sungguh menakjubkan. Sayangnya saat pulang Saya mengalami sakit kepala dan hanya mampu bersandar pada kursi. Sesekali berbincang dengan penumpang sebelah yang ternyata junior saya. Tak disangka-sangka.

Semoga Saya dapat mengunjungi kampus lain.