Menulislah

Rabu, 25 Januari 2017

Pelajaran Kehidupan

Saya sedang melihat-lihat status di facebook. Kemudian mata saya tertuju pada sebuah video singkat yang menampilkan seorang pria gemuk dengan keterangan "santan kehidupan"

Saat saya menonton video yang tidak lebih dari 3 menit itu seketika terhenyak kaget. Benar-benar menusuk hati. Bagaimana tidak, ia menjadikan proses pembuatan santai sebagai filosofi kehidupan.

Penyampai materi ini bernama rendy saputra. Beliau adalah CEO Keke Busana.

Mungkin Anda sudah sangat familiar dengan pembuatan santan. Namun saya akan sedikit mengutip bagaimana beliau menjelaskannya.

Diawali dari kelapa yang dijatuhkan dari tempat yg tinggi. Kemudian dikupas, dibelah dan di parut. Tidak sampai disitu, parutan kelapa disiram dengan air hangat dan diperas. Proses yang panjang dan menyakitkan.

Jika dihubungkan dengan kehidupan bahwa hidup itu penuh dengan masalah. Entah masalah keluarga, ekonomi, pekerjaan, dan lainnya. Banyaknya masalah itu merupakan bukti bahwa Allah mencintai kita.

Allah ingin mendidik kita dalam menghadapi berbagai masalah dan problema. Layaknya parutan kelapa yang diperas agar keluar santannya.

Jadi,
ketika masalah tak kunjung selesai
Ketika ujian datang bertubi-tubi

Tetaplah bersangka baik kepada Allah. Karena pasti ada sesuatu yang berharga dari setiap episode kehidupan yang telah kita lalui

Kamis, 19 Januari 2017

Kasih di Penghujung Senja

Debur ombak bersahutan
Semilir angin merasuk kedalam relung jiwa

Aku kembali menatap ke arah yang sama
Ke arah lautan lepas dengan air yang menggunung
Dengan keindahannya yang menghipnotis diri

Namun entahlah
Aku tak terhipnotis dengannya

Aku menyesap kopi hitam yg menyisakan ampas
Terasa manis

Mengapa?
Karena rasa yang teramat pahit
Rasa yang begitu bergelora di lubuk jiwa

Entahlah
Aku tetap duduk disini
Menikmati pahitnya rasa
Menunggu ketidakpastian

Langit berubah jingga
Tak lama berselimut hitam
Gelas bersisa ampas
Menyisakan hentakan dada

Aku masih disini
Menunggu dirimu
Yang tak kunjung menampakkan diri
Hanya bayang awan gelap yang terlihat

Permintaanku sederhana
Cukup sebuah senyuman
Yang begitu kurindukan

Hanya itu pintaku
Agar pahit ini berkurang
Hingga manis mulai terasa

Namun hingga kini
Aku tetap disini
Menanti dirimu
Tanpa kepastian

Masihkah kau mengingatku
Masihkah kau menganggapku

Cahaya jingga meredup
Terselimuti kegelapan

Tiba saat beranjak
Untuk kembali esok hari

#Menjawab_Tantangan_Mba_Na

Selasa, 10 Januari 2017

Sang Legenda

"Nomor satu..."
"Loh...loh... Pak, ko langsung nomor satu sih. Baru juga masuk Pak"
Itu hal yang paling saya ingat tentang beliau. Dan respon saya beserta kawan-kawan adalah protes. Bagaimana tidak. Baru saja beliau masuk kelas dan duduk, langsung memberikan soal dengan kode "nomor satu".
Beliau adalah guru matematika saya  di smk semenjak kelas 1 sampai 3. Perawakannya tinggi, besar namun tidak gemuk, dengan rambut yang memutih. Ciri khasnya adalah berbicara pelan sambil tertawa saat kami mengeluh akan sifatnya yang warbyasah.... -_-
Mengapa beliau menjadi legenda? Karena cara mengajarnya yg tidak biasa.
Kalian tahu? Mengapa saya bilang tidak biasa?
Pada saat belajar, beliau menerangkan dengan sangat cepat. Saya dan kawan-kawan yang berotak genius tidak dapat memahaminya.
Kami pun berinisatif melapor ke kepala jurusan agar cara mengajar beliau diubah lebih lambat, sehingga kami dapat paham.
Namun kaliah tahu apa jawaban beliau??
" Mereka itu lama banget pahamnya. Yaudah sekalian aja saya cepetin supaya ga paham sekalian"
Warbyasah sekali bukan -_-


Ini dia penampakannya.

Eh... sebentar-sebentar. Kayaknya ga sama dengan gambaran yang tadi deh. Tadi kan katanya rambutnya putih. 

Ya iyalaaaaaahhhh...... Itu kan penampakan saya. Masa iya sih rambut saya putih juga. Saya ga setua itu juga kalee -_-

Kenapa saya memajang foto ini???
Entahlah... Berdasarkan request pembuat tantangan, harus pasang foto pribadi. Mudah-mudahan ga ada yang merasa melting ya setelah liat foto saya (PD gilee. wkwkwk)


Kembali ke topik. Meskipun beliau menyebalkan, tapi saya menyenanginya. Karena beliau low profile, mudah bergaul dengan siswanya. Dan inilah yang saya terapkan sekarang saat saya berkecimpung di dunia pendidikan. Bagaimana saya bisa menjadi pendidik yang dekat dengan siswa, mengerti dunia mereka, dan dapat menanamkan nilai-nilai positif.

Karena guru bukanlah sekedar mengajar, tapi juga mendidik. Mengajar tidaklah sulit asalkan mengetahui ilmu yang akan diajarkan. Namun mendidik tidak seperti mengajar. Mendidik merupakan menanamkan, bukan sekedar tahu, tapi juga dilaksanakan dalam kehidupan.

SALAM SANG LEGENDA