Menulislah

Jumat, 23 Februari 2018

Konsisten Menulis

2 tahun yang lalu saya mengenal Bang Syaiha melalui media sosial Facebook. Tulisan beliau sangat menginspirasi dan membangkitkan semangat menulis yang sudah lama terkubur.

Saat beliau mengumumkan hendak membuat sebuah komunitas menulis, secara reflek saya langsung mendaftar dan masuk kedalam sebuah keluarga bernama One Day One Post (ODOP). Tahukah Anda, di keluarga baru ini saya benar-benar merasa malu. Mengapa? Yah, karena saya hanya berbekal keinginan untuk terus menulis tanpa keilmuan bagaimana menulis yang baik.

Di keluarga ini saya dikejutkan dengan fenomena luar biasa. Dalam 1 hari grup WA berisi chat ratusan sampai ribuan. Waw... Apa-apaan ini? Ramai sekali. Awalnya saya merasa mereka terlalu "lebay" sampai chat puluhan kali, tapi rasanya lambat laun saya menikmati.

"Tulis apapun di blog selama 2 minggu", begitu kata Bang Syaiha yang terngiang di benak saya.

Ada 2 tugas yang langsung terbayang di otak saya, yaitu membuat blog dan menulis tiap hari selama 2 minggu.

Tugas pertama saya rasa selesai, karena saat sekolah dulu saya pernah membuat blog meskipun sangat berdebu dan kotor. Kini tugas kedua, apa yang harus saya tulis?

" Apapun. Bisa keseharian, curhat, kesenangan, apapun yang terbersit di pikiran, maka tulislah", kata Bang Syaiha

Berpusing ria, bingung, mentok, sampai muntah-muntah(maaf ini lebay) saya berusaha memenuhi tantangan. Alhamdulillah selesai meski tertatih-tatih.

Waktu bergulir seiring tantangan yang silih berganti. Seleksi alam mulai berlaku. Satu persatu anggota keluarga meninggalkan rumah. Rasa sedih bergelora hebat, ketika kami sudah dekat namun harus terpisah oleh keadaan. Itulah yang terjadi. Tak perlu disesali, karena perjalanan harus dilanjutkan.

Kini, kami menjadi keluarga yang lebih besar dengan hadirnya keluarga Batch 5. Semakin banyak anggota keluarga, semakin ramai, berwarna, beraneka ragam.

Disini saya. Berusaha bertahan dalam keluarga dengan terpaan badai yang tak biasa. Ini harus dipertahankan. Karena semangat akan terus terbakar saat bersama keluarga.

Tetap semangat kawan.

Selasa, 20 Februari 2018

Dimana Jodohku?

Kemarin

"Pak, Yanti mau nikah loh. Udah dapet undangannya?" kata yusuf, salah satu alumni di tempat saya bekerja.
"Wah ... Belum tuh. Emang kapan?" jawab saya.
"Minggu depan Pak tanggal 25", jawabnya
"Wah ... Pelanggaran nih. Masa seminggu lagi belum disebar undangannya", jawab saya sedikit geram.
" Mungkin besok baru dikirim pa. Trus Bapak kapan? Hehe...", sambungnya.
"No comment. Wkwkwk", jawab saya dengan tawa
**********

Pagi ini

" Wih ... Pagi-pagi udah ada undangan aja. Dari siapa tuh?", tanya saya pada seorang staf
"Dari Yanti Pak. Wah ... Pak Sae diduluin sama alumni. Hehehe...", jawabnya dengan tawa yang terdengar sangat bahagia
**********

Jodoh,
Sebuah kata yang cukup menarik untuk dibahas. Karena ia akan menuju ke hati, yakni rasa cinta.

Dalam sebuah tulisan di kaskus, seseorang menulis bahwa Jodoh itu Ada di Sekitar Kita. Benarkah demikian? Saya pun tak tahu.

Ada pula yang menyebutkan bahwa jodoh itu adalah seseorang yang tak pernah terbayangkan dalam kehidupan kita, bahkan tak masuk dalam kriteria. Tapi mengapa bisa bersamanya? Entahlah.

Terlepas benar tidaknya teori tersebut, sang penulis sudah membuktikannya sendiri.

Dalam tulisannya disebutkan bahwa yang kini menjadi istrinya adalah anak buah di kelasnya dahulu saat ia menjadi ketua kelas X. Dan jodohnya adalah sahabat baik mantan pacarnya yang saat itu bukanlah kriteria dan bukan incaran sang penulis. Namun mengapa mereka bisa menikah? Sekali lagi, entahlah.

Itulah rahasia dari sebuah kata JODOH. Karena memang Maut, Rezeki, dan Jodoh sudah diatur oleh Allah SWT. Tak ada yang tahu kapan maut menjemput, dimana rezeki mengalir, dan siapa jodoh kita. Maka yang harus dilakukan adalah menpersiapkan diri. Untuk apa? Tentu untuk maut yang segera tiba, rezeki yang akan diberikan, dan jodoh yang akan dihadirkan.

Lalu, dimanakah jodohku sekarang?

Entahlah,

Siapa dia?
Dimana dia?
Dimana asalnya?
Apa yang dia sukai?

Masih menjadi misteri

Misteri akan terpecahkan jika sudah tiba saatnya. Persiapkan diri sampai Allah membuka tabir rahasia-Nya. Sehingga saat waktunya telah tiba, kita sudah siap menghadapinya.

Demikian,