Sejak SMP, SMK dan kuliah pasti mengadakan MOS atau OSPEK dalam rangka menyambut siswa baru. Dari semua rangkaian tersebut yang saya rasa paling berat adalah ketika memasuki bangku perkuliahan.
Di kampus saya OSPEK terbagi menjadi 3 bagian, yaitu OSPEK Universitas, Fakultas, dan Jurusan.
Seperti OSPEK pada umumnya, pasti diminta membawa barang-barang ataupun perlengkapan yang mungkin kita anggap nyleneh.
Pada OSPEK Universitas yang ditonjolkan adalah teoritis. Materi-materi yang disampaikan oleh dosen ataupun mahasiswa senior. Namun tidak melupakan nilai-nilai kedisiplinan yang selalu diingatkan oleh KOMDIS dengan bentakan-bentakannya.
Pukul 06.00 saya harus sudah berada di kampus. Karena kampus saya hanya bersebelahan kota dengan kota yang saya tempati, hanya butuh waktu 30 menit dengan menaiki bis. Namun, fakultasnya ada di kota saya. Saya pun tidak bisa berhenti tepat di depan kampus, melainkan 100 meter sebelum kampus dan harus berlari-lari masuk ke kampus diiringi bentakan-bentakan KOMDIS.
Berbeda dengan OSPEK Fakultas. Saya diharuskan memakai atribut yang menurut saya sangat nyleneh karena harus memakai topi toga dari kardus, kacamata safety, rompi karung beras, ikat pinggang tali rafia dengan kaleng softdrink uang diisi kelereng di sisi kanan dan kiri, rumbai-rumbai pada pergelangan tangan, kaki, dan pinggang, serta masker.
Kalau para pembaca melihat saya dalam kondisi seperti itu, mungkin Anda akan tertawa terbahak-bahak. Atau mungkin berpikir, ini alien dari mana??? Hehe...
Dengan atribut seperti itu yang benar-benar membuat sama malu ditambah lagi dengan waktu OSPEK yang sangat panjang. Saya harus sudah ada di kampus pukul 02.00 dan selesai pukul 20.00. Benar-benar menyita tenaga karena saat itu berada pada bulan Ramadhan. Dengan kegiatan yang sangat banyak membuat saya tidak bisa hadir di hari kedua.
Berbeda lagi dengan OSPEK jurusan. Ospek jurusan dibagi menjadi 3, pra camp, camp, dan LK.
Saat pra camp saya harus berkumpul di lapangan kampus sore hari. Ada beberapa pelatihan dan materi yang sangat bermanfaat.
Selanjutnya adalah camp. Camp dilakukan selama 3 hari 2 malam di bumi perkemahan Bandung. Perlu banyak persiapan termasuk persiapan fisik dan perbekalan. Tak lupa juga persiapan mental. Karena pada malam kedua setelah shalat Isya saya dan kelompok harus berjalan menyusuri bukit menuju post-post yang sudah ditentukan. Dan isi yang saya dapat hanyalah ocehan, omelan, dan bentakan di telinga saya. Semalaman berjalan menyusuri hutan ditambah omelan di setiap post hingga sampailah di tenda menjelang subuh. Benar-benar melelahkan.
Setelah mengikuti camp, masih ada satu lagi yang harus dilalui yaitu LK atau Latihan Kepemimpinan. Kali ini dilaksanakan di lapangan yang berada di komplek sekitar kampus. Lebih banyak teori yang saya dapatkan pada acara itu.
Sehingga, kalau dihitung-hitunv berarti saya melalui serangkaian acara OSPEK sebanyak 5 kali. Waw!!! Fantastis bukan.
Hal yang dapat saya ambil adalah dalam setiap proses ospek pasti ada bentakan-bentakan. Terlebih pada ospek Fakultas dan Jurusan. Saya pernah mendengar, mengapa harus ada bentakan-bentakan.
"Karena kita anak teknik, jangan lembek. Harus kuat mentalnya", kata salah seorang senior.
Hmm.. Entahlah.
Namun saya kurang setuju dengan hal itu. Mendidik mental tidak melulu harus dengan bentakan bahkan hinaan. Bukankah lebih menyenangkan mendidik mental dengan perbuatan santun nan terpuji?
Saya tidak memungkiri banyak nilai positif yang saya dapatkan dalam kegiatan OSPEK, namun ada baiknya tindakan dan perilaku kasar segera dihilangkan. Agar semakin terlihat bahwa akhlak dan perilaku dari tiap-tiap manusia mencerminkan sikap yang positif. Sehingga negara ini dapat terus berkembang karena adanya pemuda yang mampu menunjukkan jati diri yang baik.