Saat pertama datang di kota kecil ini, hanya ada beberapa rumah di perumahan ini. Sekelilingnya masing banyak ilalang dan pohon-pohon rindang. Kota ini dikelilingi bukit yang menghijau.
15 tahun berlalu, banyak perubahan drastis yang terlihat. Semakin bamyak rumah disini. Kota kecil ini yang disebut-sebut sebagai kota baja Semakin ramai dengan dibukanya perusahaan-perusahaan baru. Banyak pendatang yang bermunculan disini.
Entahlah. Kadang saya tidak habis pikir. Kota ini sangat dekat dengan gunung krakatau. Salah satu gunung berapi yang masih aktif. Namun banyak developer yang rajin membangun perusahaan disini.
Ironi memang. Ketika sebuah kota industri semakin hari semakin banyak perusahaan yang dibuka. Hal ini jelas berbanding lurus dengan polusi yang ditimbulkan.
Ya, pasti dari pihak industri sudah berusaha menetralisir limbah yang dibuang. Namun bagaimanapun juga semakin lama semakin tak enak hawa di kota ini.
Selain itu, ada satu hal lain yang benar-benar menyayat hati.
Dengan dalih sebagai jalur alternatif. Daerah perbukitan di kota ini dibelah dan dijadikan jalan umum. Yang paling menyedihkan adalah melihat hasil kerukan kendaraan berat yang meratakan sebagian bukit menjadi rata dengan tanah. Begitu mengerikan.
Sepanjang jalan saya hanya bisa menangis dalam hati. Bagaimana tidak. Disini saya melihat keserakahan manusia. Bagaimana mereka mengeruk tanah tanpa memperhitungkan ketahanan jalan yang menanjak. Bagaimana mereka mengeruk tanah sangat dekat dengan pondasi rumah warga.
Bahkan gol a gong, salah satu tokoh nasional pendiri rumah dunia pernah menuliskan sebuah tulisan di media sosial memperlihatkan begitu serakahnya manusia. Bahkan ada istilah, di kota ini kita bisa menemukan jalan seperti di film Lord of The Ring.
Diri ini hanya bisa mengelus dada. Sebegitu serakah kah manusia?
Sampai-sampai mengesampingkan sisi kemanusiaannya?
Bagaimana kondisi kota ini 10 tahin ke depan?
Semoga Allah tidak menurunkan azabnya pada kota ini. Karena bagaimanapun juga kota ini diawasi oleh gunung berapi aktif yang pada tahun 1883 meletus dan abunya sampai ke Australia.
Wallahu A'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar