Menulislah

Selasa, 16 Mei 2017

Di antara Angin

"Kadang saya sedih Bu"
"Kenapa Pa?"
"Diluar sana banyak anak-anak sekolah yang berangkat naik motor dan santai-santai. Sedangkan disini, mereka minimal setengah jam sebelum bel harus sudah berangkat."

Disinilah saya,
Di utara kota
Daerah pegunungan kota industri bernama Cilegon
Jauh dari industri kimia
Jauh dari pusat kota

Namun begitu dekat di hati

Mengapa??
Karena disinilah saya
Di sebuah tempat bernama Pasir Angin

Hati saya terenyuh
Melihat mereka berjalan
Panas
Terik

Namun kaki itu tetap melangkah
Pasti
Tegap
Dihiasi senyuman

Masih tersimpan dalam memori, saat pertama saya menginjakkan kaki di tanah ini. Sekitar 5 anak berjalan menuju sekolah. Ada juga 10 siswi berjalan santai sambil tertawa.
Sebaris bangunan dengan 3 ruangan ini disebut dengan SMK. Beberapa siswa duduk diatas motor. Selebihnya tertawa renyah di teras kelas.

Hati ini semakin perih melihat mereka pulang siang hari beralaskan aspal. Matahari bersinar dengan terik, namun mereka menghiraukannya.

Saya melalui mereka dan membunyikan klakson.

Tiiiinnn

"Assalamu'alaikum Pak"

Ah.... Sungguh menyejukkan senyum di wajah mereka
Senang rasanya bisa berada di tengah-tengah mereka, para pembelajar.

"Baru kali ini saya liat banyak yang sekolahnya jalan kaki"
"Disini mah banyak Pa"
"Iya ya. Maksudnya zaman sekarang loh. Udah tahun 2017. Masih ada yg jalan kaki. Kalo jaman saya sekolah dulu sih wajar"

Saya tegaskan lagi

TAHUN 2017 MEREKA JALAN KAKI

Entahlah,
Pemandangan ini membuat hati saya bergetar. Entah bagi orang lain.

"Ya beginilah kondisinya Pak Saef. Kita masih kekurangan fasilitas. Bahkan komputer pun ga ada, padahal jurusannya akuntansi."
"Trus prakteknya gimana Pak?"
"Terpaksa di warnet"

Kembali dada ini sesak
Keadaan yang serba apa adanya
Kami para guru berpikir dan berusaha disini, di sebuah ruangan kecil yang sangat nyaman meskipun cukup sempit.
Berusaha memenuhi hak mereka sebagai pembelajar
Karena merekalah generasi emas
Yang harus dipoles dengan baik

Cukup....
Cukup....
Lidah saya kelu
Jemari kaku
Mata menahan mendung
Saat saya merangkai kata disini

Apakah Anda merasakan apa yang saya rasakan?

Disinilah saya sekarang berada
Di antara angin
Bersama mereka
Generasi pembelajar

Kamis, 04 Mei 2017

Ultimatum

"SP 1 sudah keluar"
"Batas akhir pendaftaran sidang tanggal 15 Mei"
"Kalau sampai 15 Mei belum selesai, akan keluar SP 2. Dan saya tidak bisa bantu apa-apa"
"Udin, tinggal laporan ya. Saya tunggu"

Deg.....
Seketika mulut terkunci
Lidah kelu
Nafas sesak
Bulir air membasahi kening

Pertemuan yang tidak lebih dari tiga puluh menit itu membuat kami 'Para Penghuni Terakhir' harus memutar otak.

Waktu kurang dari dua minggu
Waktu yang cukup singkat
Apakah bisa??

"Dulu waktu saya skripsi, butuh 4 hari nulis. Itu full nulis 24 jam."
"Saya pake dopping rokok. Sehari habis satu kaleng rokok"
"S2 butuh 3 hari"
"S3 hanya 2 hari, karena persiapan awal saya matang"

Apa bisa dalam waktu empat hari saya menyelesaikan tulisan?

Bismillah

Selasa, 02 Mei 2017

Mendaki

Hosh.... Hosh.... Hosh....

"Istirahat bentar ya"

Saya meminum beberapa butir air di botol ukuran sedang ini
Bulir-bulir air membasahi sekujur wajah
Nafas terengah-engah layaknya berlari puluhan kilometer

Padahal hanya beberapa meter

"Maklum aja ya. Saya emang jarang olahraga, jadi ya begini"

"Padahal baru jalan sedikit ya pa"

"Yaudah kita jalan lagi. Tapi pelan-pelan aja ya"

"Perasaan dari tadi juga pelan pa"

"Bener juga sih", ucap dalam hati

Kembali kami menyusuri jalan setapak nan miring. Sesekali kaki saya terpeleset karena medan yang sedikit licin

"Tuh pa. Di depan udah nyampe"

Saya hanya bergeleng-geleng ria

"Yang ditungguin malah nyampe duluan"

Ya, tadi saya dan 2 siswa menunggu teman yang katanya menyusul. Namun ternyata mereka malah sampai duluan.

Saya berdiri sejenak dan menatap sumur-sumur itu.
Tempat ini diberi mana sumur pitu yang berarti sumur tujuh.
Namun sepanjang penglihatan saya, jumlahnya tak sampai 7 sumur.

Konon katanya yang dapat melihat ketujuh sumur itu haruslah orang suci.

Entah benar ataupun salah, yang pasti begitulah kisahnya.

Ini adalah kali ke-3 saya mendatangi sumur yang berada di gunung ini. Tidak luas memang, hanya beberapa meter lahan datar yang di tepinya ada beberapa sumur.

Jika naik lagi sejauh 50 meter, Anda akan menemui sebuah makam yang menurut warga sekitar sering dipakai sebagai tempat mencari 'ilmu'.

Tak lama saya disana. Sayup-sayup adzan dzuhur berkumandang, kami beranjak turun gunung dan menyantap makan siang.