"Bang ... Bang ... Woyyyyyy!!"
"Eh, i ... Iya. Ada apaan?", seketika aku tergagap
"Kebiasaan deh si Abang, pagi-pagi ngelamun aja. Minum teh anget dulu sana", ucapnya memberondong di pagi sejuk yang mendadak runyam
"Hus... Hus... Bisa nggak sih kalo ngomong tuh mukanya dijauhin dikit", aku sedikit mendorong tubuhnya menjauh
"Hahaha.... Udah sono bikin dulu. Liat tuh kerjaan Abang udah numpuk", katanya seraya berjalan perlahan menuju lift
"Huft ... Kenapa sih dia harus ganggu pagi ku yang tenang ini"
Aku berjalan menuju pantry untuk membuat secangkir teh hangat. Yap, itulah yang aku lakukan tiap pagi. Rasanya tak lengkap mengawali hari tanpa teh hangat, seperti makan kacang tapi tidak minum, seret bro!!
Kantor ini masih nampak sepi. Entah kemana karyawan yang lain. Padahal matahari sudah cukup tinggi dan lalu lintas di bawah sana mulai merayap. Tentu dari lantai 20 gedung ini dapat terlihat bagaimana padatnya ibu kota. Namun ada satu hal yang selalu aku rindukan. Cahaya di saat senja yang langsung menerobos kaca-kaca gedung dan membiaskan warna oranye yang menyejukkan mata.
Ruangan di lantai ini cukup luas. Terlihat cukup untuk 6 bagian yang masing-masing terdiri dari 5 meja kerja dan dipisahkan dengan papan sekat. Disinilah aku, bagian Design yang memiliki space ruang lebih besar. Karena hanya berisi 3 orang yang selalu terlihat berantakan, semrawut, tak beraturan, pokoknya segala kelakuan tak baik menempel pada kami bertiga.
Lihat saja mejaku. Satu kata yang mampu terucap adalah
"Amazing"
Bagaimana tidak, tumpukan dokumen di meja, hasil desain berserakan sampai di kursi dan lantai, kertas penuh coretan menempel di meja, komputer, papan sekat, dan ... Ah sudahlah, aku malu menjelaskannya lagi.
"Woy bro...."
"Ajegile ... Ngagetin aje", jawabku sesaat setelah seorang kawan meremas bahuku
"Lagian elu, dari tadi dipanggil bos malah ga nyaut", jawabnya sambil menunjuk menggunakan dagu
"Eh, Pak Bos", seruku sambil tersenyum melihat bos melotot. Sepertia beliau marah hebat
"kagak usah cengar cengir lu. Buruan ke ruangan gua", seru bos sambil berlalu ke ruangannya
" Siap Bos", jawabku tegas sambil memberikan hormat kepada beliau
"Lebay lu bro", tiba-tiba kawan meja sebelah yang agak aneh ini mendorongku
"Biasanya elu udah bikin teh anget, bro. Kan tiap pagi diingetin sama yayang Nia", sambungnya sambil tertawa dan menaik turunkan alisnya
"Eh ...",
Bener juga. Perasaan tadi lagi jalan ke pantry, kenapa ini masih duduk aja. Aduh, kayaknya pesona Nia mengalihkan duniaku.
Yap, gadis yang menyapaku tadi pagi adalah Nia. Gadis keturunan sunda yang memiliki kulit yang tak bisa dibilang putih itu layak disebut hitam manis. Dipermanis dengan hidung yang hmm... Sebenarnya bukan pesek, tapi terlalu imut kalau ingin dikatakan mancung. Mata kecil, bibir mungil, dan lesung pipit di sebelah kanan. Tak lupa rambut yang selalu tertutupi oleh hijab yang sederhana namun anggun.
Kelihatannya sih nothing special, but...
Dia adalah gadis yang periang dan selalu datang tepat setelah aku duduk di meja yang ah sudahlah ini.
Satu hal yang selalu dilakukan, ia akan menyapaku lalu mengambil berkas dan kembali menuju lift. Tentu karena dia adalah tim marketing handal yang tiap hari turun ke lapangan dan akan kembali saat senja menyapa.
Oke cukup, jangan terus melamun. Saatnya bikin teh hangat. Sebentar, sepertinya ada yang terlupakan. Apa ya?
"Diiiiii...... Elu mau gua pecat??", suara menggelegar itu
Astaga, Pak Bos...
"I'm coming Boss", seketika aku berlari menuju ruangannya di sudut sana
Bersambung...
Next nya kapan๐
BalasHapusInsya Allah segera. Hehe...
HapusTehnya jgn lupa di kasih gula kang ๐ lanjut episode berikutnya
BalasHapusNanti diabetes mba, dia aja udah manis sih. #eh
HapusWidiww mantap nih..
BalasHapus