Menulislah

Senin, 31 Oktober 2022

Menggali lebih dalam

 “Orang tua saya cerai Pak”

“Mamah nikah sama Ayah tiri. Bapak tinggal sendiri”

“Terus kamu tinggal dimana?”, tanya saya

“Dimana aja pak. Kalo pulang kesorean ya ke rumah bapak. Kadang-kadang di rumah mamah”

“Dulu saya pernah diusir dari 2 rumah Pak. Waktu masih MTs.”

“Loh, ko bisa?” Tanya saya lagi

“Iya. Waktu itu mamah sama ayah lagi berantem. Trus saya ke rumah bapak. Eh kata bapak saya udah bukan anaknya lagi. Yaudah saya pergi?”

“Terus kamu tinggal dimana?” tanya saya kemudian

“Di pantai Pak. Jadi ada temen saya lagi jaga pantai. Yaudah saya tinggal disitu sementara”

 

Sekelumit obrolan saya dengan seorang siswa yang selama ini terlihat ceria dan aktif di kelas maupun di organisasi. Secara pribadi saya tidak tahu apa yang terjadi jika hal tersebut menimpa diri saya. Sedangkan siswa saya yang satu ini mampu bertahan dengan kondisi yang dapat dibilang mampu mempengaruhi kesehatan mentalnya.

 

Bagaimanapun juga kondisi rumah pasti berpengaruh terhadap perilaku anak. Kondisi rumah yang hangat, dekat, harmonis dapat membentuk pribadi anak yang penyayang. Rumah yang menegangkan, menyeramkan, penuh dengan teriakan dan emosi dapat membentuk pribadi anak yang kacau. Tentu ini bukanlah hal mutlak. Contohnya seperti siswa saya yang meskipun di rumah kondisinya tidak menyenangkan namun karakter dia tetap baik. Ini hanya gambaran umum saja, dimana karakter anak dapat terbentuk akibat kondisi rumah dan lingkungan sekelilingnya.

 

Lain anak, lain pula karakternya. Seorang anak dengan orang tua yang berpisah dan masing-masing sudah membangun rumah tangga yang baru, sedangkan sang anak ditinggalkan dan hidup seorang diri di sebuah rumah yang dulunya mereka tempati bersama. Sang anak terlihat cukup “vocal” di sekolah dan termasuk kategori trouble maker sekaligus anak yang cerdas.

 

Memang benar adanya seorang guru dituntut untuk dapat memahami karakter setiap anak, dan tentu penanganannya akan berbeda. Sebuah skill yang perlu waktu lama untuk didalami. Terlebih profesi guru dituntut mampu mendidik anak menjadi pribadi baik dan benar di tengah-tengah gempuran teknologi, budaya, kebiasaan yang merusak.

 

Tetap semangat para pendidik Indonesia

2 komentar:

  1. Ya ampun, semoga menjadi anak yang kuat dan tegar ya boy. Semoga dilancarkan segala urusanmu, mendapat jalan yang terbaik untuk masa depanmu kelak.

    BalasHapus
  2. Anak didikan lingkungan. Semoga lingkungannya baik-baik saja meski di rumah tak lagi ada surga.

    BalasHapus