“Orang tua saya cerai Pak”
“Mamah
nikah sama Ayah tiri. Bapak tinggal sendiri”
“Terus
kamu tinggal dimana?”, tanya saya
“Dimana
aja pak. Kalo pulang kesorean ya ke rumah bapak. Kadang-kadang di rumah mamah”
“Dulu
saya pernah diusir dari 2 rumah Pak. Waktu masih MTs.”
“Loh,
ko bisa?” Tanya saya lagi
“Iya.
Waktu itu mamah sama ayah lagi berantem. Trus saya ke rumah bapak. Eh kata
bapak saya udah bukan anaknya lagi. Yaudah saya pergi?”
“Terus
kamu tinggal dimana?” tanya saya kemudian
“Di
pantai Pak. Jadi ada temen saya lagi jaga pantai. Yaudah saya tinggal disitu
sementara”
Sekelumit
obrolan saya dengan seorang siswa yang selama ini terlihat ceria dan aktif di
kelas maupun di organisasi. Secara pribadi saya tidak tahu apa yang terjadi
jika hal tersebut menimpa diri saya. Sedangkan siswa saya yang satu ini mampu
bertahan dengan kondisi yang dapat dibilang mampu mempengaruhi kesehatan
mentalnya.
Bagaimanapun
juga kondisi rumah pasti berpengaruh terhadap perilaku anak. Kondisi rumah yang
hangat, dekat, harmonis dapat membentuk pribadi anak yang penyayang. Rumah yang
menegangkan, menyeramkan, penuh dengan teriakan dan emosi dapat membentuk
pribadi anak yang kacau. Tentu ini bukanlah hal mutlak. Contohnya seperti siswa
saya yang meskipun di rumah kondisinya tidak menyenangkan namun karakter dia
tetap baik. Ini hanya gambaran umum saja, dimana karakter anak dapat terbentuk
akibat kondisi rumah dan lingkungan sekelilingnya.
Lain
anak, lain pula karakternya. Seorang anak dengan orang tua yang berpisah dan
masing-masing sudah membangun rumah tangga yang baru, sedangkan sang anak
ditinggalkan dan hidup seorang diri di sebuah rumah yang dulunya mereka tempati
bersama. Sang anak terlihat cukup “vocal” di sekolah dan termasuk kategori trouble maker sekaligus anak yang
cerdas.
Memang
benar adanya seorang guru dituntut untuk dapat memahami karakter setiap anak,
dan tentu penanganannya akan berbeda. Sebuah skill yang perlu waktu lama untuk didalami. Terlebih profesi guru
dituntut mampu mendidik anak menjadi pribadi baik dan benar di tengah-tengah
gempuran teknologi, budaya, kebiasaan yang merusak.
Tetap
semangat para pendidik Indonesia
Ya ampun, semoga menjadi anak yang kuat dan tegar ya boy. Semoga dilancarkan segala urusanmu, mendapat jalan yang terbaik untuk masa depanmu kelak.
BalasHapusAnak didikan lingkungan. Semoga lingkungannya baik-baik saja meski di rumah tak lagi ada surga.
BalasHapus