Menulislah

Rabu, 24 Juni 2015

Kisah Tukang Kayu

Alkisah ada seorang tukang kayu yang tinggal di suatu desa terpencil. Setiap hari ia ke hutan untuk menebang pohon dan dijadikan pohon itu potongan-potongan kecil. Potongan-potongan kayu itu kemudian dijual ke pasar.

Suatu hari, seperti biasa pagi harinya ia pergi ke hutan. Namun, pagi hari itu terlihat berbeda. Sang tukang kayu terlihat sibuk kesana kemari dan kebingungan. Ternyata kapak yang biasa ia gunakan menghilang entah kemana. Ia masih ingat tempat biasa meletakkan kapak itu, tapi pagi itu dia tidak menemukannya. Berjam-jam ia mencarinya di sekitar rumah namun hasilnya tetap nihil.

Ketika itu ia melihat tetangganya yang sama profesinya dengan sang tukang kayu. Timbul prasangka negatif di fikirannya.
"Jangan-jangan dia yang ambil kapak saya", fikir sang tukang kayu.
Sang tukang kayu berpikiran hendak memarahi tetangganya itu.

Sang istri yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik suaminya tiba-tiba menyapanya
"pa, lagi cari apa toh? Ko gelisah banget dari tadi?"
Kata-kata istrinya itu membuyarkan lamunan sang tukang kayu
"ini loh bu, bapak lagi nyari kapak bapak. Ko ga ada ya? Kan biasanya bapak taruh disini", kata sang tukang kayu.
"oh, nyariin kapak toh. Itu kapaknya ibu taruh di dapur. Soalnya takut ilang kalo taruh di luar", sahut istrinya.
Seketika itu juga sang tukang kayu beristighfar. "Astaghfirullah..."

Saudaraku, terkadang kita dibutakan oleh prasangka negatif yang muncul dalam fikiran. Dan prasangka itu mendominasi fikiran sehingga tidak dapat berfikir jernih. Dan yang menjadi korbannya siapa?? Korbannya adalah orang lain.

Mari biasakan berfikir positif. Khusnudzon kepada orang lain, khusnudzon kepada Allah. Sehingga hidup ini terasa lebih bermakna dan tenang tanpa adanya prasangka buruk yang merusak fikiran manusia.

2 komentar:

  1. ya, berpikir positif memang sangat penting.
    ceritanya bagus.
    salam ODOP :)

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah. Makasih ^_^
    Sama-sama berusaha membiasakan diri berpikir positif

    BalasHapus