Menulislah

Rabu, 13 Januari 2016

Biasa atau Istimewa



“Bang, martabaknya satu ya”, kataku
“Biasa apa istimewa Om?”, kata mamang martabak
“Hmm..... bentar bentar”, jawabku
“Istimewa enak sih, tapi mahal. Biasa murah, tapi kurang greget”, pikirku
“Bang, ga jadi beli deh”, Halah ko malah ga jadi. Salah salah
“Bang, yang istimewa ya. Sambelnya banyakin”, Loh..... ini martabak apa bakso. Ulang ulang
“Bang, yang istimewa ya”, jawabku
“Oke Om”, jawabnya
******************************************

Berbicara mengenai biasa dan istimewa, dua hal berbeda yang mungkin sering dijumpai di kehidupan sehari hari. Mengapa muncul judul seperti ini? Entahlah, jari ini ingin menulis seperti ini, ikuti saja.

Ada satu ilustrasi yang dapat dijadikan pelajaran. Anda tahu permainan sepak bola? Anda tahu? Tidak tahu? Yasudah, anggap saja tahu ya. Hehehe....

Dalam permainan sepak bola kita dapat melihat 2 tim yang saling berhadapan. Masing-masing tim terdiri dari 11 pemain. Kalau dihitung berarti dalam satu pertandingan terdapat 22 pemain di atas lapangan. Setiap pertandingan pasti akan datang suporter dari kedua kubu yang saling bersorak sorai menyemangati tim kesayangannya.

Lalu, apa hubungannya permainan bola dengan biasa atau istimewa????

Jadi begini
Mereka yang istimewa adalah pemain yang berada di lapangan. Mengapa mereka istimewa? Karena untuk dapat terpilih untuk bermain di lapangan perlu menjalani latihan, tes, dan lain sebagainya. Ketika terpilih, maka nilai jualnya akan sangat tinggi. Banyak pemain sepak bola yang mendapatkan gaji sampai jutaan rupiah bahkan mendapat bonus jika berhasil mencetak gol. Mereka bermain dan mereka dibayar. Mereka lelah dan mereka puas. Mereka mendapat pujian dan tepuk tangan dari pendukungnya.

Sedangkan mereka yang biasa adalah penonton. Loh??? Ko bisa? Ya bisalah. Coba perhatikan. Seorang penonton perlu perjuangan keras untuk dapat menonton pertandingan dari tim kesayangannya. Ia harus mengeluarkan biaya untuk memasuki tempat pertandingan. Bahkan tidak jarang untuk memasuki tempat pertandingan harus berdesak-desakkan, saling dorong, saling sikut agar dapat lebih dahulu masuk ke stadion. Ketika pertandingan dimulai, apa yang ia lakukan? Ia berteriak, menyemangati, tak jarang menggunjing bahkan menghina jika pemain tidak bermain sesuai kehendaknya.

“Tinggal tendang doang ga bisa. G*bl*g”
“Woy, oper. Maen sendiri aje Nj*ng”
“Yang bener klo maen T*i”

Mungkin masih banyak lagi. Masih ada lagi. Ketika tim kesayangannya kalah, apa yang terjadi? Terjadi kerusuhan, pengrusakan, pembunuhan, dan sebagainya. Bukan keuntungan yang diperoleh, justru kerugian yang sangat besar.

Ketika Anda ingin menjadi orang yang istimewa, Anda akan dihadapkan dengan ujian, cobaan, masalah, dan berbagai kondisi yang tidak mengenakkan. Dan Anda berhasil melalui segala hal tersebut Insya Allah kesuksesan yang akan Anda peroleh.

Jangan menjadi orang biasa, yang kehidupannya hanya mencela orang, menggunjing orang, meremehkan orang, bahkan menghina orang lain. Padahal dirinya sendiri tidaklah lebih baik dibandingkan dengan orang lain.


Ingatlah, orang biasa jauh lebih banyak dibandingkan orang yang istimewa.

Demikian.

#HariKetiga

7 komentar:

  1. Mau jadi biasa atau istimewa?pilihan ada ditangan kita...

    BalasHapus
  2. Biasa dan Istimewa dari kacamata sepak bola dan seorang pembeli martabak #eh

    hehe..

    Prolognya renyah. Ibarat appetizer (hidangan pembuka), menggugah selera untuk segera masuk ke main course (hidangan utama). Lalu, setelah melihat dan mencicipi hidangan utama, apa yg dirasakan? Hmmm! tak mengecewakan. Tidak kekurangan, tidak pula kekenyangan. Sangat cukup.

    Terakhir, dessert (hidangan penutup). Cantik dan manis.
    Ya, cantik kritikannya dan manis sarannya.

    Semoga kita bisa menjadi manusia yg istimewa di hadapan Allah Sang Maha Sempurna.

    Jazakillahu khairan katsirah... dan semangat!!!

    BalasHapus
  3. Mantep Bang analogi sama pesan moralnya

    BalasHapus
  4. Mantep Bang analogi sama pesan moralnya

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah. Terima kasih banyak ^_^

    BalasHapus