Menulislah

Rabu, 20 Januari 2016

I Love Nasyid

Sebuah hoby dapat terbentuk karena kesenangan dan kebiasaan. Begitulah yang Aku rasakan. Semenjak kecil, bahkan sebelum menginjakkan kaki di bangku SD Aku sudah diperkenalkan dengan musik-musik islami. Dulu musik Islami yang terkenal adalah "Cinta Rasul". Lagu-lagu Islami dinyanyikan oleh Hadad Alwi dan Sulis. Semakin sering mendengar, semakin suka lagu tersebut.

Beranjak menuju masa SMP, Aku mulai mengenal lagu-lagu yang diperdengarkan oleh tim nasyid Nada Murni dan The Zikr. Tidak lama setelah itu, muncul Raihan.

Memasuki masa SMA, mulai muncul nama Hawari, nasyid asal Bandung yang pertama kali Aku dengar setelah sebelumnya hanya mendengar grup dari Malaysia. Semakin lama semakin banyak grup nasyid yang Aku tahu. Sebutlah Rabbani, Mawaddah, Hijjaz, Inteam, Unic, Dehearty, dan lain sebagainya.

Di luar sana banyak anak yang "dicekoki" lagu-lagu band yang sebagian besar isinya adalah percintaan, perselingkuhan, penghianatan, dan sebagainya. Namun Aku lebih banyak mendengar syair-syair penuh makna dan nilai-nilai Illahi.

Inilah yang menginspirasiku untuk ikut berperan melestarikan musik nasyid di kotaku. Aku ikut tergabung menjadi personil salah satu tim nasyid yang ada di kota Cilegon. Dengan suara serak-serak banjir (halllllaaaah...) Aku dipercaya menjadi vocal. Alhamdulillah, satu hal yang tak dapat kubayangkan.

Tim nasyid ini masih menggunakan perkusi atau alat musik pukul. Berbeda dengan tim lain yang sudah berkembang modern menggunakan keyboard, gitar, dan lainnya. Tapi jangan salah, suara khas perkusi mampu menghipnotis pendengar (Ceilaaaahh).

Berjayalah nasyid Indonesia

#HariKedelapan


2 komentar:

  1. Suara serak2 banjir itu gimana ya? Pasti keren banget.. hahaha

    BalasHapus
  2. Terlalu bnyak seraknya smpe ga kdengeran suaranya. hehehe

    BalasHapus