Cuit...cuit...cuit...
Terdengar suara burung hias di ujung jalan sana. Banyak jenis burung yang dijajakan. Saya tersenyum melihat sorak sorai burung sore ini. Sesekali saya menghirup kopi yang mulai dingin.
Disinilah saya, di sebuah warung kopi di pinggir jalan yang senantiasa ramai pengunjung. Hampir tiap sore sepulang kerja saya menyempatkan mampir. Seperti biasa, saya memesan kopi kental tanpa gula. Jenis kopi yang jarang disukai orang, tapi saya sangat suka.
"Woy anj**g, buruan jalan"
"Macet mo**et, mata lu buta"
Tin...tin...tin...
Sore ini saya ditemani nyanyian kebun binatang yang didendangkan pengendara nan membludak. Tak lupa diiringi suara klakson yang bersahutan. Indah sekali.
Suara-suara merdu itu sudah sering saya dengar, bahkan hampir setiap hari. Flashdisk penyimpan data saya membuka lembaran-lembaran lama. Terlihat bagaimana saya seorang anak desa yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ibukota. Datang demi mengadu nasib. Terkagum-kagum melihat gedung-gedung tinggi menjulang ke langit.
Lembaran itu sudah tersimpan 5 tahun yang lalu. Banyak hal yang saya alami selama berada disini, kota metropolitan. Mulai dirampok saat turun dari bis, menjadi pengamen, pedagang asongan, ditangkap satpol pp, dan masih banyak lagi.
"Bos, ngelamun aja. Kopinya dingin tuh. Mau saya bikinin yang baru?"
"Jangan. Dah biarin aja. Layanin aja yang lain"
"Oke bos siap"
Setelah 5 tahun perjalanan akhirnya saya punya sebuah warung kopi ini. Sebuah proses panjang penuh batu yang sungguh menyakitkan.
Wahai Bapak Presiden, apakah Anda suka kopi kental tanpa gula? Sesekali cobalah. Memang rasanya pahit dan getir. Tapi tahukah Anda, pahit kopi ini mengingatkan saya betapa perjuangan ini tidaklah mudah. Bahkan pahitnya kopi ini tak lebih pahit dibandingkan kehidupan yang saya jalani.
Terima kasih
#MenulisSetiapHari

