Menulislah

Kamis, 25 Februari 2016

Kerjasama dengan Singapura

Saya membaca beberapa artikel tentang teknologi hari ini. Ada sebuah berita yang menarik perhatian. Bapak Warsito Purwo Taruno, penemu helm dan rompi anti kanker telah melakukan seminarnya di Wasarwa Polandia awal bulan ini. Setelah di Wasarwa, beliau sudah ditunggu di Amerika Serikat, Australia sampai India.

Menteri Riset dan Teknologi Perguruan Tinggi, Mohamad Nasir mengatakan bahwa Warsito "meneken" kontrak dengan Singapura. Hal ini bukanlah tanpa sebab. Setelah kliniknya ditutup sementara oleh Kementrian kesehatan, beliau telah melakukan PHK terhadap 75 karyawan dan membutuhkan banyak dana untuk melanjutkan penelitiannya.

Haaaaahhhh..... Saya tidak habis pikir, mengapa begini? Seorang penemu alat canggih untuk penyakit mematikan berupa kanker nampak tersia-siakan. Apa disini tak ada dana untuk penelitian??? Entahlah, saya bukan seorang ahli politik negara. Mungkin banyak hal yang saya tidak tahu.

Namun ada satu hal yang mengganjal, terutama yang dirasakan oleh Mohamad Nasir. Setelah "teken" kontrak dengan Singapura, apakah alat anti kanker tersebut akan berlebel made in singapore? Karena memang akan diproduksi secara masal disana. Ataukah made in Indonesia? Karena negara memiliki sertifikat teknologi ECCT (Electro Capacitive Cancer Therapy) yang terdapat pada helm dan rompi anti kanker.

Semoga baik kedepannya.

Terima kasih

#FebruariMembara

Referensi :
http://m.news.viva.co.id/news/read/739589-menristek-warsito-teken-kontrak-dengan-singapura-teknologi

3 komentar:

  1. ckckck...selalu seperti itu deh. innovator indonesia ga dapat ruang di negara sendiri

    BalasHapus
  2. Indonesia kita sangat memprihatinkan :'(

    BalasHapus
  3. Ya Allah. Trkdang galau ngelihat Nagari q

    BalasHapus