Menulislah

Selasa, 02 Februari 2016

Pelita Hidup

**********
Hidup ini bagai lampu dinding
Yang dinyalakan dimalam hari
Apabila minyak sudah kering
Ia kan pasti padam sendiri
**********

Anda tahu lampu dinding? Kalau Aku sering menyebutnya lampu templok. Lampu yang menggunakan minyak sebagai bahan bakarnya. Ketika minyak habis, maka matilah lampu tersebut. Begitulah filosofi bagi manusia.

Manusia diibaratkan sebuah lampu. Ia mampu bersinar terang dan menyinari sekelilingnya. Namun jika minyak sebagai masa hidupnya telah habis, maka ia akan kembali kepada sang pencipta. Tidak mampu menawar, mengundurkan waktu bahkan sedetik sekalipun.

**********
Setelah kita tinggalkan dunia
Alam yang lain pula menanti
Apakah kita dapat kurnia
Itu melihat amal dan bakti
**********

Ingatlah, ketika meninggalkan dunia akan ada satu masa dimana setiap manusia dibangkitkan kembali. Allah meminta pertanggungjawaban semua perilaku selama berada di dunia. Apakah kita mendapat kurnia? Atau bahkan azab? Hal itu bergantung pada tingkah laku, perilaku, dan amal yang diperbuat semasa hidup.

**********
Di sana insan cemas dan bimbang
Tak dapat lagi buat alasan
Buruk dan baik akan ditimbang
Kedua-duanya dapat balasan
**********

Segala perbuatan akan mendapat balasan. Kebaikan mendapat pahala. Keburukan mendapat dosa. Segala perbuatan tanpa terkecuali akan ditimbang.

Maka, sebelum nafas sampai tenggorokan, mari perbaiki diri. Mari berbenah menuju pribadi yang lebih baik.

Malam ini Aku teringat lagu Pelita Hidup yang dinyanyikan oleh tim nasyid Hijjaz di atas. Semoga mampu memberikan hikmah dan pelajaran bagi kita manusia.

Terima kasih

#FebruariMembara
#Day2


2 komentar:

  1. Nice, makasih sudah diingatkan bang :)

    BalasHapus
  2. iya jdi ingat lagunya hijaz..

    Pelita hidup, bagus...

    kalau saya pijar cahaya, nga tau judul n isinya apa uda yambung. nulis aj

    BalasHapus