Menulislah

Kamis, 27 Oktober 2022

LOMPATAN

 

Kadang saya berpikir, apa yang mereka inginkan dengan melompat pagar? Apakah mereka mengira pagar itu sebagai tempat yang tepat untuk melatih skill dalam hal parkour? Atau memang berminat menjadi atlet lompat tinggi?

 

Kadang pula saya berpikir, ko bisa mereka menyelinap di antara rimbunan alang-alang tinggi dan berusaha agar tidak terlihat? Mampu menaiki bukit damal hitungan detik? Waw... itu bisa menjadi rekor baru mungkin dalam dunia militer. Mungkin mereka memang sedang berlatih mempertahankan negara di perbatasan yang penuh dengan tanaman liar dan kontur yang berbukit.

 

Hal ini menjadi evaluasi tersendiri bagi saya selaku pendidik, karena penting untuk mengetahui motif ataupun hal yang melatar belakangi tragedi ini. Apakah sekolah dianggap penjara yang harus sesegera mungkin agar keluar darinya? Ataukah menjadi tempat yang nyaman untuk mengembangkan diri.

 

Tentunya kita tidak dapat langsung menghakimi seseorang atas perbuatannya. Karena tentu ada hal lain di belakangnya. Sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi karena hal buruk yang menimpanya. Bisa jadi kenakalan-kenakalan remaja yang saat ini terjadi bermula dari ketidaknyamanan anak di rumah. Brokenhome, merasa tidak diperhatikan, tidak dianggap, dan lain-lain. Terlebih dengan kondisi lingkungan yang tidak selalu baik. Teman nongkrong, merokok, minum-minuman keras, hingga geng motor itu semua pengaruh dari lingkungan.




 

Maka dalam memproteksi atau menjaga anak-anak dari pengaruh buruk perlu adanya benteng bernama akhlaq. Sebagaimana Rasulullah SAW diutus dalam memperbaiki akhlaq masyarakat yang buruk. Akhlaq ini tentu berkaitan erat dengan adab. Memang benar sebelum mempelajari hal atau ilmu lain, yang pertama ditanamkan adalah adab. Sebagaimana adab pertama dalam belajar adalah niat yang lurus. Ketika niatnya lurus Insya Allah yang dilakukan akan benar.

 

Peran pendidik menjadi sangat penting dalam menanamkan adab dan akhlaq yang baik sehingga menjadi benteng yang kuat bagi siswa dan menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan selanjutnya saat terjun ke masyarakat.

8 komentar:

  1. Memang benar, Pak. Akhlak yang utama.

    BalasHapus
  2. Selain akhlak sebagai tonggak utama dalam mendidik generasi, perlu juga pak adanya chemistri diantara siswa dan guru agar siswa pun dapat leluasa meluangkan isi hatinya kepada org yg dipercaya sehingga mudah bagi kita seorang pendidik untuk lebih mengarahkannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Guru dituntut untuk dapat merangkul dan dengan dengan siswanya. Dengan kedekatan itulah akan muncul keterbukaan. Saya yakin di balik kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh anak terdapat hal lain yang mungkin tidak kita pahami

      Hapus
  3. Akhirnya bagaimana pak? Apa anaknya dihukum atau diajak konseling?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentunya diajak konseling dulu Pak. Digali terlebih dahulu masalah yang mendasari kenakalan tersebut. Di samping itu ada konsekuensi yang diterima siswa

      Hapus