Kadang
saya berpikir, apa yang mereka inginkan dengan melompat pagar? Apakah mereka
mengira pagar itu sebagai tempat yang tepat untuk melatih skill dalam hal parkour?
Atau memang berminat menjadi atlet lompat tinggi?
Kadang
pula saya berpikir, ko bisa mereka menyelinap di antara rimbunan alang-alang
tinggi dan berusaha agar tidak terlihat? Mampu menaiki bukit damal hitungan
detik? Waw... itu bisa menjadi rekor baru mungkin dalam dunia militer. Mungkin
mereka memang sedang berlatih mempertahankan negara di perbatasan yang penuh
dengan tanaman liar dan kontur yang berbukit.
Hal
ini menjadi evaluasi tersendiri bagi saya selaku pendidik, karena penting untuk
mengetahui motif ataupun hal yang melatar belakangi tragedi ini. Apakah sekolah
dianggap penjara yang harus sesegera mungkin agar keluar darinya? Ataukah menjadi
tempat yang nyaman untuk mengembangkan diri.
Tentunya
kita tidak dapat langsung menghakimi seseorang atas perbuatannya. Karena tentu
ada hal lain di belakangnya. Sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi karena hal
buruk yang menimpanya. Bisa jadi kenakalan-kenakalan remaja yang saat ini
terjadi bermula dari ketidaknyamanan anak di rumah. Brokenhome, merasa tidak diperhatikan, tidak dianggap, dan lain-lain.
Terlebih dengan kondisi lingkungan yang tidak selalu baik. Teman nongkrong,
merokok, minum-minuman keras, hingga geng motor itu semua pengaruh dari
lingkungan.
Maka
dalam memproteksi atau menjaga anak-anak dari pengaruh buruk perlu adanya benteng
bernama akhlaq. Sebagaimana Rasulullah SAW diutus dalam memperbaiki akhlaq
masyarakat yang buruk. Akhlaq ini tentu berkaitan erat dengan adab. Memang benar
sebelum mempelajari hal atau ilmu lain, yang pertama ditanamkan adalah adab. Sebagaimana
adab pertama dalam belajar adalah niat yang lurus. Ketika niatnya lurus Insya
Allah yang dilakukan akan benar.
Peran
pendidik menjadi sangat penting dalam menanamkan adab dan akhlaq yang baik
sehingga menjadi benteng yang kuat bagi siswa dan menjadi bekal mereka dalam
menjalani kehidupan selanjutnya saat terjun ke masyarakat.

Memang benar, Pak. Akhlak yang utama.
BalasHapusBetul Pak
HapusSelain akhlak sebagai tonggak utama dalam mendidik generasi, perlu juga pak adanya chemistri diantara siswa dan guru agar siswa pun dapat leluasa meluangkan isi hatinya kepada org yg dipercaya sehingga mudah bagi kita seorang pendidik untuk lebih mengarahkannya.
BalasHapusBetul sekali. Guru dituntut untuk dapat merangkul dan dengan dengan siswanya. Dengan kedekatan itulah akan muncul keterbukaan. Saya yakin di balik kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh anak terdapat hal lain yang mungkin tidak kita pahami
HapusAdab sebelum ilmu...
BalasHapusBetul sekali
HapusAkhirnya bagaimana pak? Apa anaknya dihukum atau diajak konseling?
BalasHapusTentunya diajak konseling dulu Pak. Digali terlebih dahulu masalah yang mendasari kenakalan tersebut. Di samping itu ada konsekuensi yang diterima siswa
Hapus